Labil
Kenapa aku jarang sekali merindukannya?
MUngkin karena dia selalu ada untukku. Selalu ada tiap kali ingin kuhubungi.
Jika dia tidak ada?
Aku seperti secara otomatis mencari pengganti yang bisa mengisi hatiku.
Aku juga seperti selalu ingin menghindarinya.
Ragu-ragu rasanya.
Tidak, aku tidak membencinya.
Aku sangat menyukainya.
Aku hanya, merasa… gamang.
Mungkin aku merasa bersalah, karena tidak sanggup mencintainya, sebesar cintanya padaku.
Kenapa rinduku padanya, tak pernah membuat diriku sakit?
Sakit hingga ulu hatiku perih menahan rasa kecewa tak bertemu dengannya?
Apa karena dia terlalu mudah untuk didapat?
Apa karena aku tak berjuang apapun untuk mendapatkannya?
Apa karena aku merasa yakin dia pasti mencintaiku sepenuh hatinya?
Dulu aku bermimpi menikah dengannya
Pernah aku sampai sakit, menangis hingga airmataku seakan tak bisa menetes lagi
Tapi, saat ini, saat setelah dia memperjuangkan segalanya untuk siap menikah denganku, menunda cita-citanya dan menentang mamanya…
Aku merasa seperti berada dalam lorong panjang terowongan kereta…
Aku ingin lari… lari…. Menghindari kereta itu
Aku merasa kereta itu akan menerjangku sesaat lagi
Menghancurkanku
Atau membawaku melesat ke tempat yang tak kutau,
tanpa kuasa aku bisa mengatakan, aku hendak kemana
aku takut.. sebentar lagi … aku akan menjadi bukan diriku lagi
aku ingin berteriak, ingin mengadu…
tolong!!! Aku takut dengan pernikahan!!!
Tapi di satu sisi, aku juga merindukan suatu kemapanan dalam hidupku.
Aku lelah berjalan dengan kedua kakiku, sendirian.
Aku rindu seseorang yang bisa memapahku,
yang bisa menggendongku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar