Aksara Hati
Malam sudah beranjak renta sejak tadi
Tertatih lumpuh sebagai hatiku yang meraba mencari cintamu
Yang masih saja mendamba hadir sekedar bayangmu
Yang masih terbakar oleh aroma nafas tubuhmu
Kekasihku, dimana engkau?
Tiga malam lalu masih kulihat kau disudut mataku
Masih kudengar parau batukmu
Masih kuingat setiap nada yang kau senandungkan
Kekasihku, tahukah engkau?
Cintaku padamu memang bengal
Sudah kucoba membunuh ia dengan pedang kejammu
Dengan beku sikapmu
Dengan racun ingkarmu
Dengan belati dusta mu
Tapi ia tetap saja hidup dan tak mau mati
merambah lagi,
Merajai hatiku yang capai..
Kekasihku, tahukah engkau?
Aku sudah lelah menggempur cintaku padamu
Aku sudah lelah bertarung dengannya dimedan laga bertabur puspa
Kekasihku,
Sepertinya aku sudah siap untuk menancapkan tombakku di bumi,
lalu berlutut takluk dibawah panji pesonamu
Mensahayakan jiwa raga ku bagi serpihan kecil remah cintamu..
Kekasihku,
Lihatlah aku sejenak saja
Maukah kau mendekap ragaku ini yang sekarat bersimbah cinta?
Tak dapatkah kau melihatku?
Walaupun dengan cinta sebanyak ini?
Yang meleleh ruah menggenang disudut kakiku?
Malam makin tua, kekasihku
Tapi aku tak mau lelap memejam mata
Karena kau pasti ada disana,
disetiap helai mimpiku
disetiap lingkar bola mataku
Dan saat itu aku benci akan diriku
Yang kemudian selalu tersenyum
Melupakan segala derita dan getir
Membentangkan kedua belah tanganku
Demi memeluk bayangmu yang semu...
Aku (masih saja) mencintaimu...
Tertatih lumpuh sebagai hatiku yang meraba mencari cintamu
Yang masih saja mendamba hadir sekedar bayangmu
Yang masih terbakar oleh aroma nafas tubuhmu
Kekasihku, dimana engkau?
Tiga malam lalu masih kulihat kau disudut mataku
Masih kudengar parau batukmu
Masih kuingat setiap nada yang kau senandungkan
Kekasihku, tahukah engkau?
Cintaku padamu memang bengal
Sudah kucoba membunuh ia dengan pedang kejammu
Dengan beku sikapmu
Dengan racun ingkarmu
Dengan belati dusta mu
Tapi ia tetap saja hidup dan tak mau mati
merambah lagi,
Merajai hatiku yang capai..
Kekasihku, tahukah engkau?
Aku sudah lelah menggempur cintaku padamu
Aku sudah lelah bertarung dengannya dimedan laga bertabur puspa
Kekasihku,
Sepertinya aku sudah siap untuk menancapkan tombakku di bumi,
lalu berlutut takluk dibawah panji pesonamu
Mensahayakan jiwa raga ku bagi serpihan kecil remah cintamu..
Kekasihku,
Lihatlah aku sejenak saja
Maukah kau mendekap ragaku ini yang sekarat bersimbah cinta?
Tak dapatkah kau melihatku?
Walaupun dengan cinta sebanyak ini?
Yang meleleh ruah menggenang disudut kakiku?
Malam makin tua, kekasihku
Tapi aku tak mau lelap memejam mata
Karena kau pasti ada disana,
disetiap helai mimpiku
disetiap lingkar bola mataku
Dan saat itu aku benci akan diriku
Yang kemudian selalu tersenyum
Melupakan segala derita dan getir
Membentangkan kedua belah tanganku
Demi memeluk bayangmu yang semu...
Aku (masih saja) mencintaimu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar